Adat istiadat jawa adalah sangat unik dan kadang lucu…
dan saat ini ada beberapa adat yang tlah musnah tergerus kemajuan zaman yang tak dapat di bendung. Salah satunya adat yang unik dan jika boleh aku sebut adat yang lucu dan agak njijikki yang aku sebut “ngilangi sarap sawan”.
Mungkin sebagian besar orang umur 20 taunan ga tau hal itu, namun jika di tanyakan ke eyang, simbah, nenek, atau ibu mengkin mereka paham kemudian sedikit senyum simpul.
Bagini ceritanya, orang jawa jaman dulu masih berkeyakinan bahwa orang yang telah meninggal jiwanya akan tetap tinggal di rumahnya selama tujuh hari. Maka secara otomatis saat hari melayat pastilah masih “bergentayangan” di rumah duka.
Nah, dalam adat jawa juga <mungkin agama juga> mengatakan bahwa orang yang masih bersih/ suci bisa melihat hal2 yang gaib. dan kebanyakan yang masih suci adalah anak2 atau balita…..
Sehingga pada saat seorang anak2 ikut melayat, orang tua mengkhawatirkan anak2 nya bisa melihat yang seharusnya tidak di lihat “melihat arwah”, yang kemungkinan besar menyebabkan anak bisa kesurupan atau dalam bahasa jawa di sebut keno sawan……
Untuk mencegah hal tersebut, para ibu mempunyai obat mujarap supaya anaknya terhindar dari terkena sawan…. yaitu dengan ‘jurus’ buat ngilangi sarab sawan.
Bagaimana metode dan cara kerjanya? Seorang ibu akan mengoleskan kungit yang berasal dari uang sawur ke beberapa bagian tubuh sang anak, kemudian ibu melakukan ritual utama yaitu “ngraupi anak nganggo dalane dewe” yaitu dengan membasuh muka anak dengan tangan setelah sang ibu (maaf) mengusap jalan untuk melahirkan sang anak(vagina), maka di sebut dengan ngraupi anak nganggo dalane dewe, yaitu jalan yang pertama kali di lewati sang anak.
itu di maksudkan agar anak ga melihat hal2 yang ghoib dan terhindar dari kesurupan/ terkena sawan….
Mungkin sebagian besar orang tidak mengalaminya, namun coba tanyakan ke nenek, eyang, ato ibu anda karena memang bener2 ada dan adalah salah satu adat jawa (biarpun agak aneh)…….